Melacak Sunan Ampel
Umat Islam, khususnya yang tinggal di Jawa, pastilah
mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Sunan Ampel. Makamnya di Masjid
Ampel (Kelurahan Ampel, Surabaya), sebagaimana makam-makam Walisanga lainnya,
menjadi tujuan para peziarah dari seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Pada
malam-malam tertentu, terlebih malam likuran di bulan Ramadan, Masjid Ampel
diserbu ribuan umat Islam.
Raden Rahmat atau Sunan Ampel diyakini sebagai perintis
penyebaran agama Islam di Jawa. Dia datang ke Jawa tatkala Majapahit masih
berkuasa, kemudian mendirikan pesantren di Ampel (Ngampeldenta) di Surabaya.
Dari sini Sunan Ampel memupuk kader yang di kemudian hari menyebarkan Islam,
bukan saja di Jawa, tapi juga luar Jawa. Sunan Giri dan Sunan Muria adalah dua
dari puluhan muridnya.
Bukan itu saja, Sunan Ampel juga mempunyai dua orang anak
yang kelak juga menjadi Wali dan mendirikan pesantren untuk penyebaran agama
Islam, yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Dibanding Wali-Wali yang lain,
informasi otentik tentang Sunan Ampel dalam bentuk prasasti yangdiguris di atas
batu atau lempengan sama sekali tidak ada. Tidak juga didapati candrasengkala
yang menunjukkan tahun pada bangunan masjid, gapura atau makam. Begitu juga
naskah atau manuskrip yang ditulis pada masa hidupnya atau agak dekat sesudah
wafatnya, sampai sekarang belum ditemukan apabila tidak dapat dikatakan sama
sekali tidak pernah ada. Naskah babad baru ditulis pada zaman Mataram dan
sesudahnya, seperti Babad Tanah Jawi edisi Olthof (BTJ-Olthof), Babad Demak,
dan Babad Mataram. Serat babad yang bercerita tentang Sunan Ampel antara lain
Babad Tanah Jawi (BTJ), Babad Tanah Jawi-Mees(BTJ-Mees), Babad Ngampeldenta
(BN), Babad Tanah Jawi-Galuh Mataram (BTJ-GM),Babad Resakipun Majaprhit (BRM),
Babad Cerbon (BC), Babad Majapahit dan Para Wali(BMPW), Wali Sana Babadipun
Parawali (WSBP) dan Babad Tanah Jawi Naskah Bau Wanar/Naskah Drajat (BTJ-NBW
IND).
Untuk memperoleh data yang jelas dan rinci tentang Sunan
Ampel, paparan berbagai sumber tradisi tersebut perlu telaah interteks. Data
itu nantinya akan memberi gambara sejarah Sunan Ampel, setidak-tidaknya menurut
tradisi tulis. Tradisi tulis yang beragam, data dan informasinya selain
terdapat perbedaan, parelelitasnya hampir dipastikan selalu ada. Kesamaan data
atau informasi itu dapat ditangkap sebagai fakta yang mendekati sahih.
Nama dan Gelar
BTJ-Olthof, BN, BTJ-GM, BRM, BNPW, BTJ-NBW/ND, BTJ-Mees, dan
BC menyebutkan bahwa nama kecil Sunan Ampel adalah Rahmat. Begitu pula dengan
sumber Arab dan Barat. Sejak tahun 1977, Panitia Haul Agung Sunan Ampel
menetapkan nama Sunan Ampel dengan Ahmad Rahrnatullah.
Dasar penetapan nama Ahmad Rahmatullah tersebut, pertama
berdasarkan pertimbangan bahwa Sunan Ampel bukan orang Jawa, melainkan
keturunan Arab. Nama Rahmat tidak dikenal di kalangan bangsa Arab terutama yang
berdiam di Indonesia. Nama Rahmat tentu berasal dari bahasa Alquran Rahmatullah
yang berarti kurnia dari Allah SWT.
Sedangkan gelar, umumnya tradisi tulis menyebutnya dengan
gelar Raden atau Rahadyan. Hanya satu sumber, yakni BC, yang menyebut Pangeran.
Dari mana sebutan Raden diperoleh, padahal Sunan Ampel bukan asli Jawa atau
bangsawan Jawa? Jawabannya hanyalah sebagai hipotesis.
Kedua, gelar Raden agaknya tidak melekat pada waktu masih di
Campa, melainkan baru diperoleh setelah menetap di Jawa. Setelah penduduk
mengenal sosok, kepribadian dan kinerjanya sebagai ulama dan menjadi imam di
Ampel, orang menghormatinya dengan gelar kehormatan, yaitu Raden.
Ketiga, BN pupuh Asmaradana menyebutkan bahwa Raja Majapahit
menganugerahi Sunan Ampel tempat tinggal di Dusun Ampeldenta dan diberi
penduduk 800 keluarga untuk menjadi pengikut. Ia juga memberi gelar susuhunan.
Hampir seluruh penduduk Ampel telah diislamkan, pengikut pertama yang berada
dalam kewenangan sebagai pemimpin komunitas (umat) inilah diduga yang
pertama-tama menabalkan gelar Raden sebagai wujud penghormatan kepada Sunan
Ampel yang menjadi pemimpin atau tuan mereka.
Keempat, kemungkinan lain boleh jadi masyarakat, lebih-lebih
para santrinya, mengetahui bahwa Sunan Ampel bergelar al-Syarif atau Al-Sayyid.
Lafaz ‘syarif’ berarti bangsawan, pengertian yang umum adalah untuk keturunan
Rasulullah SAW. Gelar syarif atau sayyiddipahami sebagai sebutan untuk kelompok
ningrat Arab, lalu dipandang sederajat kedudukannya dengan bangsawan Jawa,
karena Raden berarti gelar bangsawan keturunan raja. Keempat, tidak mustahil
gelar Raden ditabalkan karena Sunan Ampel mempersunting puteri adipati atau
pejabat tinggi daerah di Tuban atas perkenan dan kehendak raja Majapahit.
Gelar Raden agaknya tidak lepas dari padanya, seakan tabu
bila menyebut nama kecil Sunan Ampel hanya dengan Rahmat saja. Gelar itu
senantiasa melekat pada Sunan Ampel dalam sebutan orang-orang Islam di sekitar
makam dan para peziarah.
Sedangkan sebutan sunan, menurut WSBPW, berasal dari
susuhunan. Kata susuhunandalam pengucapan Jawa bisa berubah menjadi “suhun” dan
“sunan”. Suhun dan suhunanberasal dari bahasa Kawi yang berarti sunggi, pundhi,
mumundhi, pupundhen, berarti sunggi, junjung (di kepala). Pengertian disunggi atau
dijunjung di kepala itu bermakna ditinggikan, sangat dihargai, sangat
dihormati. Selain sebutan Wali atau
Sunan, masih ada sebutan atau gelar lain untuk Raden Rahmat, yaitu Pangeran
Katib dan Wali Qudum atau Wali Maqdum. Gelar ini diberikan oleh Mawlana Ishak,
karena Sunan Ampel itu Wali yang pertama-tama menyebarkan agarna Islam di Jawa
atau Wali yang mendahului wali-wali yang lain.
Campa
">Tetapi ada juga sejarahwan yang berpendapat bahwa Campa
terletak di pantai utara Aceh, yang terkenal sekarang dengan nama Jeumpa. Hamka
juga berpendapat serupa, karena adanya persamaan bunyi Campa dengan “Jeumpa”.
Namun penyebutan Campa menjadi Jeumpa tidak didapati dalam buku-buku yang
ditulis oleh penulis Aceh.
Buku Aceh Sepanjang Sejarah yang ditulis oleh H. Mohammad
Said juga tidak menyebutkan bahwa Campa sama dengan Jeumpa atau Campa terletak
di pantai utara Aceh Utara, sebaliknya Campa terletak di Indocina. Sedangkan
Hikayat Aceh memberi petunjuk bahwa Campa berada di sekitar Kamboja, Ciangmai,
Lanea dan Cina.
Pendapat lain menyatakan bahwa Campa lebih jauh harus dicari
di pantai India-Belakang bagian timur. Pendapat seperti ini diperkuat oleh
sastra sejarah Melayu dan Jawa. CeritaSejarah Melayu memuat riwayat singkat
kerajaan Campa. Diceritakan bahwa penduduknya tidak makan atau menyembelih sapi
(boleh jadi mereka beragama Hindu atau Budha).
Dari sumber-sumber lain dapat diketahui bahwa Campa pada
tahun 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tahun tersebut berada
dalam rentang tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1458-1477) yang telah
memberi perlindungan atau suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri.
Salah satu alasan mengapa Raden Rahmat bersama adiknya melawat ke Jawa, menurut
De Graaf dan Pigeaud, ialah ancaman Annam terhadap Campa tersebut.
Campa sebagai sebuah negara dengan sistem monarki
diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-2 sampai abad ke-19. Campa memang
pernah berjaya dengan memiliki wilayah lima propinsi dengan dua buah pelabuhan,
tetapi nasibnya selalu di ujung tanduk dan jatuh bangun. Silih berganti
diserang oleh kerajaan tetangganya, yaitu Vietnam dan Khmer atau Kamboja. Musuh
Campa yang paling laten dan lama ialah Vietnam. Vietnam menyapu bersih wilayah
kerajaan Campa yang tersisa, yaitu Pandurangga, pada tahun 1834 M.
Peta yang cukup tua yang mencantumkan nama Campa ialah peta
Gerhard Mercator, yang dibuat pada akhir abad ke-16 (1512-1594). Nama Campa
sebagai suatu wilayah ternyata sudah ada dalam peta Asia tersebut dan letaknya
di Vietnam sekarang, dekat dengan Kamboja.
Dengan uraian di atas, negeri Campa sebagai tempat kelahiran
Raden Rahmat terletak di India Belakang menjadi jelas. Keragu-raguan terhadap
letak Campa, apakah di India Belakang ataukah Aceh, dengan demikian dapat
dihilangkan.
Nasab dari Garis Ayah
Delapan dari sembilan sumber tradisi tulis menyebutkan bahwa
ayahanda Raden Rahmat bernama Ibrahim. Enam sumber di antaranya menyebut dengan
tambahan Asmara. Sumber BN, BMPW, WSBP dan BTJ-GM menyebut dengan gelaran Seh,
dua sumber lagi, yakni BTJNEW IND, menyebut Maulana dan sumber BTJ-Olthof dan
BRM menyebut Makdum. Tambahan kata Asmara di belakang nama Ibrahim agaknya
memang khas Jawa, bukan Arab.
Sumber tradisi BRM, BC, dan BTJNEW IND menyebutkan bahwa Seh
Ibrahim Asmara berasal dari negeri Tulen, begitu juga Hikayat Hasanuddin dari
Banten. Sumber BTJ-GM dan BMPW menyebutkan berasal dari Arab, sedangkan sumber
lainnya tidak menyebutkan negeri asalnya.
Kata “Tulen” tidak jelas apakah suatu kota atau sebuah
negeri. Demikian pula tidak ada penjelasan lebih jauh tentang Arab. Di mana
letak Tulen tidak diterangkan. Begitu pula dengan kata Arab, tidak jelas letak
sebenarnya, apakah wilayah Arab Saudi sekarang, Yaman, atau Hadramaut. Sumber
BTJ-GM menyebutkan ayah Raden Rahmat masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Dan
alHaddad menyebutkan gelarnya dengan al-Syarif.
Mencermati silsilah Raden Rahmat dengan metode persandingan
dan perbandingan yang didukung oleh sumber yang cukup dengan berbagai variable,
nasab Raden Rahmat dari garis ayah masih keturunan Nabi Muhammad SAW lewat
koridor Sayyida Husain bin Ali KW. Hanya saja dalam dirinya tidak lagi berdarah
Arab murni, melainkan sudah bercampur dengan darah dari bangsa atau etnis lain.
Ibu Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, empat sumber yang menyebutkan
nama ibunda Sunan Ampel. Sumber BN menyebutkan nama Retna Sujinah, ESBP
menyebut Retna Dyah Siti Asmara, BC menyebut Darawati, sedangkan BTJ-NBW/ND
menyebut nama Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan. Mana nama yang sebenarnya
sulit untuk menetapkannya. Nama-nama itu semuanya versi Jawa, tetapi semua
sumber tradisi itu meyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat adalah puteri raja Campa.
Apa benar ibu Raden Rahmat puteri seorang raja? Agaknya
tidak diperoleh keterangan data yang memadai. Penuturan sumber tradisi tentang
ibu Raden Rahmat sebagi puteri “raja” Campa, boleh jadi memang harus diartikan
lain, yaitu bukan sebagai raja dalam arti kata yang sebenarnya raja, melainkan
seorang pemuka yang terhormat dari suatu komunitas di wilayah Campa. Penulis
babad agaknya ada kecenderungan untuk mengangkat posisi tokohnya setingkat atau
beberapa tingkat lebih tinggi.
Denys Lombard menyebut ibunda Raden Rahmat dengan “anak
gadis seorang orang terkemuka setempat”. De Graaf dan Pigeaud menyebutnya
dengan “seorang wanita dari keluarga baik-baik, keluarga bangsawan”. Sumber
tradisi yang menyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat sebagai puteri raja agaknya
sulit dibuktikan dengan data sejarah Campa.
Istri dan Kerabat Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, hanya empat sumber yang
menyebutkan namanya. Tiga sumber menyebut nama Manila dengan gelaran yang
berbeda, yaitu Nyai Gede Manila, Retna Siti Manila, dan Nyai Ageng Manila.
Sumber BTJ-NBWIND menyebutkan nama yang sama sekali berbeda, yaitu Candrawati.
Berbagai sumber tradisi menyatakan baha istri Sunan Ampel
berasal dari Tuban. Pada umumnya sumber tradisi memberitakan bahwa istri Sunan
Ampel puteri Arya Teja. Ada sumber yang menyatakan bukan puteri Afya Teja,
melainkan puteri Tumenggung Wila Tikta.
Tentang istri Sunan Ampel yang lain yang bernama Mas Karimah
puteri Ki Bangkuning diberitakan oleh sumber BTJ-NBWIND. Sumber BMPW juga
menyebutkan adanya istri lain selan istri dari Tuban, tetapi tidak menyebutkan
nama dan orang tuanya.
Sumber tradisi Serat Kanda dan Sedjarah Dalem memberitakan
bahwa Raden Rahmat puteranya banyak sekali. Putera-puteri Sunan Ampel yang
paling banyak disebutkan oleh sumber tradisi tulis yaitu Sunan Bonang dan Sunan
Drajat. Sedangkan putera-puteri Sunan Ampel lainnya adalah (1) Nyai Ageng
Maloka atau Nyi Ageng Sluke. atau Tulaki, (2) Nyai Ageng Manyura atau Panyuran,
(3) Siti Hafshah, (6) Nyi Ageng Wilis, (7) Asyiqah, (8) Alawiyah, (9) Mas
Murtasyiyah, dan (10) Mas Murtasimah. Sedangkan menantu Sunan Ampel di
antaranya Raden Paku atau Sunan Giri dan Raden Patah.
Kader
Sunan Ampel mempunyai banyak keturunan dan murid (santri)
yang berabad-abad lamanya berjasa mengembangkan agama Islam, bukan saja di Jawa
tapi juga di luar Jawa. Sunan Ampel sebagai perintis penyebar agama Islam di
Jawa, agaknya sulit dibayangkan bahwa dia dengan mobilitas tinggi berkeliling
kampung-kampung di seantero Pulau Jawa. Dia lebih banyak berperan sebagai
pendidik kader, berbeda dengan Sunan Kalijaga yang terkenal dengan mobilitasnya
sebagai juru dakwah di tengah-tengah masyarakat pedesaan.
Kader-kader yang ditempatkan oleh Sunan Ampel di berbagai
tempat di Pulau Jawa itu kelak berhasil menyebarkan agama Islam secara setapak
demi setapak. Kader generasi pertama membentuk kader generasi kedua, kader
generasi kedua mendidik kader generasi ketiga dan seterusnya. Sebagai contoh
dapat disebutkan kader generasi ketiga ialah Sunan Prapen, cucu Sunan Giri.
Sunan Prapen dalam dakwahnya menyebarkan agama Islam ke Pulau Lombok, Sumbawa
sampai ke Bima. Pendidikan kader diteruskan oleh kader-kader berikutnya sambung
menyambung seperti diberitakan oleh beberapa sumber tradisi.
Di tempat masing-masing kader itu mendirikan surau atau
masjid untuk menyebarkan agama Islam, kemudian berkembang menjadi pondok-pondok
pesantren. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah pondok pesantren
yang diasuh oleh Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Raden Patah. Tempat
tinggal mereka berkembang menjadi sentra penyebaran agama Islam.
Di antara mereka, yang paling berhasil dan menjadi pendidik
kader terbesar pada abad ke-16 dan 17 adalah Sunan Giri dan penerusnya. Raja
Hitu atau Ternate yang bernama Zainal Abidin belajar di pesantren di pesantren
Giri. Dia belajar di situ bersama perdana menterinya yang bernama Jamilu
Sekembalinya dari Giri, Zainal Abidin membawa mubaligh dari sana. Sejak itu
agama Islam tersebar di Ambon dan daerah-daerah lain seperti Tidore, Gilolo,
dan Pulau Halmahera.
Di Surabaya sendiri pondok pesantren tertua yang masih tetap
eksis sampai sekarang adalah pondok pesantren Sidosermo (Sidoresmo) sebelah
timur Wonokromo. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ngusman Jabet (mungkin Usman
Zuber). Dalam pesantren ini mulanya berkumpul 400 orang, ditampung dalam
pondokan sebanyak 40 rumah.
Sunan Ampel sebagai tokoh sejarah telah berjuang melalui
tiga jalur sekaligus, yaitu dakwah, pendidikan dan pembentukan kader. Dia juga
guru para Wali di Jawa. Sunan Ampel temyata tidak hanya figure Wali pertama dan
utama, tapi juga menjadi perintis pembangunan kota Surabaya yang dimulai dari
menata lingkungan yang teratur, bersih dan indah di Ampeldenta, Ampeldenta dan
sekitarnya tumbuh. (bud)
Riwayat Hidup Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah seorang Mubaligh yang muncul hampir
bersamaan dengan Maulana Malik Ibrahim, jadi boleh dikatakan sebagai Wali yang
seangkatan dengan Maulana Malik Ibrahim. Sunan Ampel ini membangun pondok
pesantren di Ampel Denta, dekat kota Surabaya dan berdakwah di daerah
sekitarnya. Nama mudanya ialah Raden Rakhmat, dan nama lengkapnya ialahAli Rakhmatuliah.
Riwayatnya yang pasti tidak diketahui tetapi konon beliau dilahirkan di negeri
Campa pada sekitar tahun 1401 M kemudian mengembara untuk menemui saudara
sepupunya bemama Aria Damar yangbermukim di Palembang. Aria Damar kemudian juga
masuk Islam dan berganti nama menjadi Aria Abdillah. Mengenai nama Campa, bisa
berada di wilayah Kamboja (menurut pengertian Encyclopaedia van Nederlandsch
Indie) dan menurut Raffles bisa pula sebagai nama tempat di Aceh yaitu Jeumpa.
Konon Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Asmarakandi yang menjadi raja di
Campa dan wafat tahun 1425 tetapi dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.
Sunan Ampel kawin dengan wanita Tuban bernama Nyai Ageng
Manila, perkawinannya menghasilkan 4 orang putera puteri yaitu :
1). (Puteri) Nyai Ageng Maloka
2). Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
3). Syarifuddin (Sunan Drajat)
4). (Puteri), sebagai
isteri Sunan Kalijogo
Di Jawa Sunan Ampel
bermukim di daerah Surabaya, beliau hidup sederhana dan berdakwah dengan
nafas “Jawa” walaupun dakwahnya menggunakan bahasa Arab. Dakwah pokoknya ialah
memberikan penjelasan mengenai makna dan tafsir dari istilah bismillah,
alhamdulillah, astaghfirullah dan syahadatain. Murid-muridnya sangat banyak dan
nantinya akan meneruskan perjuangan Sunan Ampel di sektor keagamaan. Di antara
muridnya yang terkenal ialah Raden Paku yang kemudian digelari sebagai Sunan
Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi sultan pertama di kerajaan Islam di
Glagah Wangi (kemudian bemama Bintoro Demak) dan diberi gelar Sultan Alam Akbar
Al Fatah, Raden Makdum Ibrahim(putera Sunan Ampel) yang kemudian digelari orang
sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin(puteranya sendiri) yang kemudian diberi gelar
Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke Blambangan untuk
meng-Islamkan masyarakat disana.
Sunan Ampel menjadi
pejuang sejati yang meneruskan cita-cita Maulana Malik Ibrahim.Penobatan Raden
Patah menjadi sultan di Demak adalah usaha Sunan Ampel dalam rangka
peng-Islaman. Juga pendirian Masjid Agung Demak dibantu oleh Sunan Ampel pada
sekitar tahun 1351 Saka atau 1429 M.
Ketika Sunan Ampel wafat, kematiannya sangat menyedihkan
bagi umatnya dan ditangisi sepanjang upacara pemakaman. Pemakaman Sunan Ampel
itu dihadiri oleh para wali lainnya seperti Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan
Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Beliau dimakamkan di sebelah
kanan masjid Ampel Denta. Tanggal wafatnya kurang jelas. Menurut Serat Kanda,
wafatnya dinyatakan dengancandrasangkala: “awak kalih guna iku” yang nilainya
1328 (dibaca dari belakang), jadi pada
tahun 1328 Saka atau 1406 M (lihat Brandes; Pararaton, dalam VBG XLVII,
1896:199). Menurut pendapat Sidi Gazalba, Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M
(lihat Gazalba : Masjid, 1982 : 256, Jakarta : Pustaka Antara)
Bangunan Makam
Lokasi makam Sunan Ampel terletak di dalam kompleks Masjid
Jami Ampel di Surabaya. Di depan kompleks makam ada pintu gerbang besar bergaya
Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi
setinggi 110 cm. Di arah kaki (bagian selatan) ada pintu yang dapat dibuka dan
ditutup yang dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya dibuat bersusun 4 tingkat
dan nisannya bagian atas berbentuk seperti daun teratai. Pada sisi jirat bagian
selatan dituliskan keterangan tentang diri Sunan Ampel dalam aksara latin.
Makam ini dilindungi oleh tembok keliling tebalnya dan kuat
tetapi tanpa atap, jadi selalu kepanasan di siang hari dan kehujanan bila
musimnya tiba. Mungkin hal ini merupakan amanat dari Sunan Ampel kepada
murid-muridnya untuk membuatkan makam tanpa atap pelindung. Seluruhnya ada
tujuh kelompok makam yang semuanya berada di belakang masjid Ampel yang
keterangannya demikian:
1). kelompok makam Sunan Ampel, punya pintu gerbang sendiri,
terletak di barat-laut masjid,
2). kelompok makam mBah Sonhaji dan para syuhada 1974
(korban kecelakaan pesawat jamaah haji),
3). kelompok makam lama yang tak dikenal,
4). ruang juru kunci,
5). kelompok makam para Bupati dan Angkatan 45,
6). kelompok makam mBah Saleh,
7). kelompok makam mBah Abdurrahman.
Hiasan Makam
Makam Sunan Ampel tergolong sederhana. Bentuk nisannya
seperti daun teratai, lainnya biasa saja. Hiasannya terpusat pada gapura dan
masjidnya. Hiasan di atas gapura berupa motif bunga dan suluran. Pada dinding
gapura sisi dalam ada hiasan medali dan bintang segi delapan. Pada masjid Sunan
Ampel, mimbarnya dihiasi motif garuda; plengkung mimbar dihiasi medalion dan
daun-daunan serta matahari Majapahit.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari
koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Teropong, Edisi 18, Juli – Agustus 2004, hlm. 40,Tim Pustaka Jawatimuran dari
koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur :
Makam-makam Wali Sanga di jawa,
Departemen pendidikan Dan
Kebudayaan, Oleh: Dr. Machi Suhadi/dra. Ny. Halina Hambali, 1994-1995, hlm.44-46,
Sumber
http://jawatimuran.wordpress.com/2011/11/29/sunan-ampel/

0 komentar:
Posting Komentar